Sabtu, 26 Mei 2012

anda

ketika aku sudah lelah dengan.keadaan akupun tlah measa kekecewaan dan merasa putus asa akan hadirku  dihidupmu.
aku sadar aku sangat mencitaimu dan berharap kau kembali padaku. tapi, tak semestinya kau buat aku begini. walau aku tlah bnyak bersalah padamu, aku harap kau mau memaafkan atas kecerobohanku, kekakuanku, keegoisanku. jangan buat aku seperti bunga dipadang psaair.
aku tegar dan selalu trsenyum disaat hati ini ingin mnjerit inilah bentuk kedewasaanku. aku yakin dilubuk hatimu yang terdalam bahwa rasa itu masih aada untukmu. tapi, kekecewaanmu trhadapku tlah merobohkan segala rasa. dan kini hanya rasa benci untukku.
aku berusaha membuka untuk yang lain pada dasarnya semua kembali pada momry tentangmu. aku menyesal kenapa aku begitu merasa menyangimu n' mencintaimu saat kau tlah pergi hingga saat ini belum ada yng bisa membuatku merobohkan rasa untukmu.
hingga aku dapat bertahan sendiri selama 6bulan karna rasa masih untukmu.
aku hanya berharap kelak jika kau tetap tak dapat kmbali. kan ada pangeran berkuda pelangi, yang kan membawaku kecerian dan melupakan smua..............!!!!!!!!!!!

Jumat, 06 Januari 2012

Kata Kata Gombal

"Jari kamu bagus ya,?kok bisa ? apalagi kalo ada jari aku di sela-selanya"


"Kita ke toko bunga yuk! | Mau beli apa? | Beli bibit cinta buat ditanam di hatimu"

"Udah makan neng? | Makan mah udah bang, tinggal jadi istri abang aja nih yang belom"

"segitiga pny 3 titik ujung…segiempat pny 4 titik ujung…aku harap rasa SAYANG qta sprti lingkaran yg tidak mempunyai titik akhir&tak berujung!!"

"Aku udah pernah jatuh dari jembatan..aku udah pernah jatuh dari tangga..Semuanya gak enak. Tapi ada satu jatuh yang paling enak, yaitu jatuh cinta sama kamu.."

"Aku tahu satu jam itu 60 menit dan satu menit itu 60 detik. Tapi aku gak pernah tahu kalau satu detik tanpa kamu itu seperti seumur hidup.. "

"kopi ini pahit, tapi kalau minum sambil melihat dirimu, kopi ini terasa manis deh…"

"Dalam Sayur Ada Kaldu…Relung Hatiku Tersirat Rindu..
Bukan Maksudku Tuk Bilang I Miss You…Ataupun Bilang I Love You…
Aku cuman mau bilang..Sebelum Tidur Pipis Dulu…"

"KOMPAS, BuletinSiang, Silet, Liputan 6, Detik, Antara, LintasBerita adalah berita SUPER BASI kabar darimu lah yang selalu kunanti.. "

"ada 3 hal yang paling aku suka di muka bumi ini.
Matahari, bintang, dan kamu...
Matahari untuk siang hari...
BIntang untuk malam hari...
Dan Kamu untuk selamanya... "

"Ku akui aku takut akan ketinggian. Aku juga takut akan kegelapan. Aku takut kegagalan dan juga kematian. Tapi taukah kamu aku lebih takut kehilanganmu "

"Sayang selandang kamu belum dibalikin sama Si Jaka Tarub..??, Trus dia pasti nanya kenapa emangnya?, trus ane jawab dech " kok kamu belum pulang2 ke Kayangan....(priiikkiiitiiieeww...)"

"Aq berdo'a semoga kamu ga lihat pelangi ??, Trus dia pasti nanya kenapa emangnya kenapa say?, trus ane jawab dech " Yaa..biar kamu ga nemuin jalan pulang ke kayangan....(cciiikkiiiccciiieeww...) "

"aku gak berani ngeliat mata kamu, karna gara-gara mata kamu yg indah aku jadi jatuh cinta ama kamu !!"

"hei....Kamu itu temen macem apa sih? mang kanapa ?Teganya mencuri hatiku jadi aku ingat kamu selalu"

"Mau jadi TTMku gak? Teman Tapi Menikah"

"Kalo keujanan bareng kamu, air hujan yg dingin pun terasa seperti air shower yg hangat"

"Panas setahun dihapus hujan sehari. Jomblo setahun dihapus kamu sehari"

"Senyum kamu kayak baking soda, bikin senyumku ikutan mengembang"

"Sejak kenal kamu, yang aku tau cuma 1 musim. Musim rindu"

"Sejak kenal kamu, bawaanya pengen belajar terus deh. Belajar jadi yang terbaik buat kamu."

"Temenin aku ke rumah sakit yuk, hati aku ilang nih. | Kok bisa? | Diambil kamu."

"Diliat dari garis wajah, jangankan aura-aura jahat, Aura Kasih aja kalah sama kecantikan kamu"

"heh.. kamu kalau cantik kira - kira dong | kenapa mas? | masa aku sampek gak bisa tidur gara gara mikirin kecantikanmu"


"Malem-malem gue sering bingung" "lah, bingung kenapa?" "Kalo tiap gue liat bintang, kaya lg liat wajah loe. Sama-sama indah."

"Aku rela ikut lomba lari keliling dunia, asalkan kamu yang jadi garis finish-nya "

"Nyalain bluetoothnya dong" "buat apa?" "Gue mau transfer hati gue ke loe"

"Kamu tau nggak ada yang lebih indah & lebih bersinar ketimbang bintang?" "Hah? Emang ada?" "Ada, Kamu"

"Ayah kamu pemulung ya ? | kok tau ? | karena kamu sudah mengumpulkan cinta dihati aku"

"Pulsa aku berkurang tiap sms kamu, tp kok cinta nya nambah terus ya?"

"Meskipun SMS sering pending2, cinta aku ke kamu ga akan pending!"

"Ayah kamu pemulung ya ? | kok tau ? | karena kamu sudah mengumpulkan cinta dihati aku"

"Kamu tau nggak tadi malem aku mimpi nyasar kemana?" "Kemana?" "Kehatimu"

"Parkir di Mall itu pasti bayar, kalau parkir cinta dihati kamu, GRATIS kan? "
 TUGAS APLIKOM

The Journal of Agriculture and Environment Vol:11, Jun.2010 Review Paper
120
POULTRY PRODUCTION, MANAGEMENT AND BIO-SECURITY MEASURES
Banshi Sharma, MVSc.1
ABSTRACT
Poultry farming is an emerging industry in Nepal. Hygienic poultry production can pave
way to better income and sustainable development. Poultry health management is
important due to emergence of highly pathogenic diseases like Highly Pathogenic Avian
Influenza (HPAI) in different parts of the world. Bio-security measures become vital for
better performance and quality of poultry production in competitive world. The latest
technological innovations may help adoption of bio-security measures and environment
friendly practices in poultry production system. Bio-security policy can be formulated with
the participation of stakeholders. It would give new dimensions towards poultry farming in
different clusters in Nepal. Moreover, participatory response of poultry entrepreneurs to
the programs prioritizing poultry disease investigation, eradication and safe guarding
poultry industry would be valuable. There must be research tie up with different institute
regarding production, processing and marketing of poultry products.
Key words: Bio-security, environment, Nepal, poultry health management, poultry
performance, quality-control.
INTRODUCTION
Poultry health management is the emerging issue along with bio-security measure.
Livestock and poultry birds are major causes of zoonotic diseases transmission chain. The
food from livestock sources need to be free from disease causing agents to safe guard
public health. Farm to fork chain must be clean and hygienic. Therefore, bio-security is
foremost important to poultry farmers. It reduces losses in long terms. It promotes organic
farming in rural area. Bio-security measures, poultry farm management and organic farming
become sustainable development cycle in rural area. Farmers used to keep few birds in
scavenging system in villages and have been keeping native chicken in backyards. Therefore
there is a chance of spreading of poultry disease in livestock and human population due to
close contact. It should be avoided for better sanitation practices in long run. There is a
tremendous growth of poultry farming in the last six decades and it creates income
generation in urban and per urban area (Bhattarai, 2007). The demand of poultry meat has
increased due to tourism and changing food habits.
In the year 2004/2005, poultry meat production was 15,461 MT (Annex 1). There is a
gradual increase in poultry meat production. Duck is basically raised for religious purposes
in different places. The duck is localized in towns, roadside area, peri-urban area and
swamp area of villages. They are more concentrated in riverside and water logging areas.
High duck population may serve as carrier of HPAI and Low Pathogenic Avian Influenza
(LPAI) in poultry population.
There has been gradual increase in poultry egg production, and in the year 2006/2007, it
reached 614,848,000 in Nepal (MOAC, 2008). The poultry population including layers and
broilers are gradually increasing. There had been 6,643,350 layers in Nepal in the year
2004/2005(Annex 2).
A lot of women are involved in poultry processing. Development of infrastructure for
slaughter house has been very slow. Local government should participate with private
sector. The land for slaughterhouse, water supply, sewage and organic materials
decomposition place should be well organized. The construction of slaughterhouse is to be
1 Senior Veterinary Officer, Central Veterinary Laboratory, Ph. 4261938, sharmabanshi@hotmail.com
The Journal of Agriculture and Environment Vol:11, Jun.2010 Review Paper
121
provided by municipalities, private entrepreneurs and VDC in joint venture programme. The
key role of maintenance should be given to private sector for making sustainable
development.
Now a days people enjoy different types of poultry meats such as Mandarin chicken, chilly
chicken and Thai chicken. They have developed habit of eating frozen meat. When people
have exposure to outside work, they learn to eat different varieties with their changing
lifestyles. The processed and frozen meat has local market and tourists are major
consumers. The government may help by providing opportunity of exporting in neighbouring
countries as well as overseas. For that there must be eradication of Salmonella in poultry
birds. Therefore, zoning concept may be applied for this. As Nepal becomes member of
WTO, if we met SPS standards on poultry meat and eggs, export becomes easier than
expected.
Bio-security policy, rules, and regulation can be accommodated to the existing laws of
Nepal. In the advent of bird flu outbreak in Nepal, bio-security policy formulation has been
initiated. Therefore, in order to obtain hygienic poultry production, livestock market,
processing activities and farm should follow bio-security to make hygienic environment. The
objective of the review is to help develop environment friendly poultry farming system to
obtain maximum production without damage to environment.
THEORETICAL FRAMEWORK
Considering the important contribution of poultry sector in national economy APP has given
it third important priority in livestock development programme. There is a growing trend of
poultry keeping in the highway sides and other roadside area. Currently there are five
hatcheries in government sector and 75 hatcheries in private sector. Similarly there are 178
feed industries in private sector and one in government sector. There is a tremendous
potential for poultry development in future. The future strategy may include steps and
policy to marketing level. Poultry farmers have better economic opportunity. It gives also
employment opportunity to women and rural people.
There should be relation between poultry development and poultry health plan to improve
public health hazard in the country. At present, there is little infrastructure to facilitate
the slaughter and marketing of poultry birds. Though there are some cold storage and meat
marketing scheme in private sector. Egg market is tied up with feed industry. There is
lesser concern towards the environment protection. Therefore, it is advisable to have
following strategies for betterment of poultry production, management and good biosecurity
measures that improves the production in and environmentally friendly manner.
There must be clear cut vision about commercial as well as rural poultry development.
There is ample opportunity of exporting eggs and meat in autonomous region of Tibet,
China, Bangladesh and Gulf countries. The government should take initiatives for
standardization for exporting. It will create confidence in rural farmers. There is an urgent
need of poultry development board in which there must be participation of producers,
hatchery owners, feed industrialist, medicine suppliers', livestock experts, veterinarian,
management experts and planners. There must be soft loan programme towards poor
farmers and women group. There must be workable mechanisms of quality control of
chicks, feed and medicines. There must be policy for infrastructure development such as
slaughterhouse, cold storage etc. The processed product can fetch more money. There
should be bio-security policy along with environmentally friendly plan for farmers and
entrepreneurs.
Special package is organized (training in poultry keeping, poultry processing) for group
leader farmers in rural area and commercial farmers of poultry production area.
Commercial poultry production is 50% and rest 50% occupies by back yard poultry
The Journal of Agriculture and Environment Vol:11, Jun.2010 Review Paper
122
production. Special focuses on disease know how, treatment of poultry birds by technicians
or experts would be done. Poultry extension programmes through Department of Livestock
Services (DLS), NGO and local government should be carried out in a coordinated way.
There is Central Veterinary Laboratory (CVL) in Kathmandu and National Avian Investigation
Laboratory (NAL) in Chitawan, which deal with the poultry disease diagnosis. The capacity
of CVL and NAL shall be enhanced to cope with emerging poultry diseases.
Research on production, processing and marketing of poultry products is essential to
increase productivity and to maintain good environment. The role of private sector is
limited to management and processing of poultry meat. These municipalities should
develop infrastructure in suitable places. Experts of DLS and National Agriculture Research
Council (NARC) shall provide clean meat and sausage production training. There must be
some sort of training on marketing component, which should be explored. The bio-security
measures should be worked out and published for general public and stakeholders.
BIO-SECURITY FOR POULTRY FLOCKS
Bio-security has three major components: isolation, traffic control and sanitation.
Whenever there is import of new chicks from abroad, it shall be quarantined for three
weeks in respective farms. Sick birds shall be kept in isolation. Different age and sex groups
shall be placed separately to minimize the risk of disease spread. Poultry health
management and treatment procedure shall better organize by means of isolation.
The possible breakdowns in bio-security norms and introduction of new birds and traffic
pose the greatest risk to bird health. Therefore, properly managing these two factors
should be a top priority in a farm. In order to assess how much bio-security is practical in a
farm, following factors such as economics, common sense and relative risk should be
considered.
New birds represent a great risk to bio-security because their disease status is unknown.
They may have an infection or be susceptible to an infection that is already present in birds
that appear normal (healthy carriers) in a farm. While all-in/all-out management system is
not feasible for many breeding farms or farms raising exotic fowl or game-birds, it is
possible to maintain a separate pen or place to isolate and quarantine all new, in-coming
stock from the resident population. Isolation pens should be as far from the resident birds
as possible. At least 3 weeks of quarantine is preferable; 4 weeks is better. Observation of
birds for any signs of illness shall be observed regularly. Diagnostic blood tests for infectious
diseases shall perform at this time. Avoid putting new birds, including baby chicks, in
contact with droppings, feathers, dust and debris left over from previous flocks. Some
disease-causing organisms die quickly; others may survive for long periods (Annex 3).
Footwear should be disinfected at each site. Disinfectant footbaths may help to decrease
the dose of organisms on boots. But, because footbaths can be hard to correctly maintain it
is a good idea to have a supply of cleanable rubber boots or strong-soled plastic boots for
visitors. It is advisable to wash hands after handling birds in isolation or birds of different
groups. It is mandatory to disinfect drinkers and feeders on a regular basis (daily). Plan
periodic clean-out, clean-up and disinfection of houses and equipment, at least once in
each production cycle of poultry bird. Use this time to institute rodent and pest control
procedures. Remember that drying and sunlight are very effective in killing many diseasecausing
organisms. Dispose of dead birds promptly by rendering, burning, burying,
composting or sending to a sanitary landfill.
DISCUSSION
Poultry farming is one of the booming industries in Nepal from last four decades. Poultry
farmers are facing a lot of problems due to high cost of feed and medicine, emerging new
diseases and lack of bio-security measures. There is outbreak of bird flu in South Asia, East
Asia frequently which causes panic among stakeholders. Government policies towards bioThe
Journal of Agriculture and Environment Vol:11, Jun.2010 Review Paper
123
security are not adequate. Backyard poultry raisers and small entrepreneurs will feel
burden of bio-security. Though, it is helpful and cost saving mechanism for entrepreneurs in
long run. As there are some important zoonotic diseases which spread from poultry to
human being such as HPAI make a great concern to us and global environment. Above all
the commercial farmers/entrepreneurs have to perform their activities as per the
Environment Protection Act 2055. It is advisable to establish new farms out of densely
populated area.
The disease reporting system of District Livestock Services Office (DLSO) comes from
different services centres of Nepal. They collect information from backyard poultry farms
and small commercial farms in the districts. They do not have information from the big
commercial farms. So that the epidemiological surveillance reporting is incomplete and it
cannot be interpreted correctly.
Bio-security is a means of recommended practices in the farm premises, which costs some
extra investment initially however it will be cheaper in long run. Bio-security is necessary
to control disease in effective way. The treatment and prophylactic measures and its cost
involvement shall be reduced.
There must be awareness and training programme in bio-security measures. Nepal produces
different livestock and poultry vaccine of its own (Annex 4) and vaccination of poultry birds
as per the schedule is one of the reinforcing bio-security measures in poultry farms.
It is necessary to organize public awareness campaign for different types of poultry meat.
With increase in poultry meat variety and diversification in meat processing, more of raw
meat tends to be processed. It can fetch more money than raw meat. Tourism is one of the
major foreign currencies earning industry in Nepal. if there will be more flow of tourists in
future, the market of processed meat will be widened. Poultry farming is providing
employment for 65,000 and the rate of employment will increase in subsequent years.
Clean poultry farm will reduce foul smelling to neighbours and disease spread. Poultry
manure is good for agricultural product. Organic farming can be boosted along with poultry
farming which will ultimately lead to sustainable development and clean environment. The
earth becomes global village and each and every person shall contribute to maintain clean
environment. One good manage poultry farm will certainly contribute to clean
environment. Solid waste disposable systems should be developed. Dead carcasses should
be buried with due care so that it will not contaminate soil and water. Food chain, use of
antibiotics, decontamination medicine, ecto-parasite medicine should be used rationally to
avoid residue in poultry and subsequently to soil, vegetation, food chain and environment.
Among the infectious diseases Infectious Bursal Disease (IBD) is one of the major disease
problems in Nepal followed by New Castle disease, coccidiosis and pullorum (Annex 5).
Major poultry vaccine imports are ND, IBD, Fowl pox, IB (live), IB+ND, Marek's disease, Reo,
Salmonella (Live), EDS-76.There has been restriction of Chicken Anemia virus vaccine and
avian encephalomyelitis (AE) vaccine. As there was no such disease outbreak reported in
Nepal so far.
CONCLUSION
Poultry production is an important component of integrated agriculture practice in Nepal.
Backyard poultry becomes ideal source of cash money to rural people. Where as commercial
farmers are interdependent with feed price, market network of eggs and meat. The
backyard poultry farming is not up to expectation in term of bio-security and cleanliness
measure. After first outbreak of HPAI in 2009, the government of Nepal has given priority
for bio-security policy formulation. As the poultry industry is in continuous threat of HPAI,
the poultry heath management is of great concern in present situation.
The Journal of Agriculture and Environment Vol:11, Jun.2010 Review Paper
124
Fifty percent of poultry production is taken by commercial sector. Lack of proper disease
recording and reporting system from commercial sector to government organization make
knowledge about in country status of animal disease incomplete and unreliable to different
stakeholders. Present epidemiological reports include only back yard poultry and small
farms. This will hinder information sharing between commercial and back yard poultry
farms and can cause substantial economic losses to farmers. Developing environmentfriendly
poultry farming system is urgent in Nepal with documentation of prevailing
diseases.
There should be stakeholders meeting from all sectors of poultry entrepreneurs to guide
towards future goal and it gives way to prioritize poultry disease investigation, eradication
program and safe guarding poultry industry in Nepal.
There must be research tie up with different institute regarding production, processing and
marketing of poultry products. Diagnosis of poultry disease must be given high priority as
risk of bird flu pandemic.
Bio-security measures should be enhanced to reduce disease outbreak. Good bio-security
will pave way for clean environment. Standards for bio-security measures are in progress.
There must be awareness programme to farmers' level to update bio-security need. Clean
poultry production system will make hygienic food chain and contribute towards improved
farm management. Bio-security will not only maintains the good environment but also
minimize infectious and zoonotic diseases and subsequently enhance public health.
REFERENCES
AHD, 2060/2061 – 2063/2064. Annual Report. Directorate of Animal Health, Kathmandu.
VEC, 2002-2006. Annual Epidemiological Bulletins. Veterinary Epidemiology Centre, Tripureshwor,
Kathmandu.
Bhattarai, T. C., 2008. Poultry production scenario of Nepal. Paper presented in Poultry Entrepreneurs'
Forum, Kathmandu with collaboration with World Poultry Science Association.
MOAC, 2008. Statistical information on Nepalese Agriculture. Agribusiness Promotion and Statistics
Division, Singh Durbar, Kathmandu, Nepal.
Annex 1: Poultry Meat Production in MT:
SN Fiscal Year Poultry Meat Duck Meat
1 1996/1997 10671 291
2 1997/1998 11400 292
3 1998/1999 12116 294
4 1999/2000 12659 296
5 2000/2001 13259 287
6 2001/2002 14118 281
7 2002/2003 14756 270
8 2003/2004 15881 223
9 2004/2005 15461 237
Source: Statistical information on Nepalese Agriculture 2006/2007
The Journal of Agriculture and Environment Vol:11, Jun.2010 Review Paper
125
Annex 2: Poultry population in Nepal:
SN Years Poultry Ducks Poultry Layers Duck Layers
1 1996/1997 15576525 415758 4886764 218065
2 1997/1998 16164730 416943 5181880 218687
3 1998/1999 17796826 421423 5420900 220400
4 1999/2000 1861936 425160 5667817 222401
5 2000/2001 19790060 411410 5998367 215376
6 2001/2002 21025030 409861 6453860 214090
7 2002/2003 22260000 408311 6622558 213751
8 2003/2004 22525112 400083 6676954 211838
9 2004/2005 22790224 391855 6643350 183208
Source: Statistical information on Nepalese Agriculture 2006/2007
Annex 3: Longevity of Disease-Causing Organisms
Disease Lifespan away
from birds Disease Lifespan away from birds
Infectious Bursal
Disease Months Marek's Disease Months to
Coccidiosis Months Newcastle Disease Days to weeks
Duck Plague Days Mycoplasmosis (MG,MS) Hours to days
Fowl Cholera Weeks Salmonellosis(Pullorum) Weeks
Coryza Hours to days Avian Tuberculosis Years
Annex 4: Vaccine production in Nepal:
Vaccine Production F/Y 2060/61 F/Y 2061/62 F/Y 2062/63 F/Y 2063/64
PPR tissue culture vaccine 35,62,000 22,13,000 20,65,000 19,19,000
H.S. and B.Q. 4,57,000 3,94,000 5,86,000 8,58,000
Swine Fever 11,000 19,000 10,000 75,000
N.D. (M strain) 95,76,000 88,22,000 90,80,000 97,69,000
Ranikhet R2B 16,45,000 20,63,000 20,90,000 20,90,000
Gumboro Live vaccine 43,97,000 57,08,000 56,56,000 56,58,000
HS aerosol vaccine 0 25,000 25,000 25,000
HS, BQ, Anthrax 1,22,000 3.30,000 0 0
Fowl Pox 3,74,000 0 0 0
Source: Animal Health Directorate Annual Report 2060-2064.
Annex: 5: Poultry Disease Compilation of 2002-2006:
SN Poultry Disease Outbreaks Affected Dead Vaccinated Treated
1 Coccidiosis 4861 497510 30960 0 493695
2 Respiratory Disease (unclassified) 2989 193020 13153 0 183472
3 IBD 741 294147 29219 651694 230882
4 New Castle disease 592 226594 22298 1042139 55289
5 Pullorum disease (S. Pullorum ) 364 89072 6254 0 83437
Source: Annual Epidemiological Bulletins of 2002-2006.

Minggu, 11 Desember 2011

LAPORAN IMT "TEST SEKAM"


PENDAHULUAN
Praktikum Industri Makanan Ternak kali ini membahas materi tentang test sekam. Sekam merupakan kulit gabah hasil samping dari proses penggilingan padi. Dari penggilingan padi juga akan menghasilkan dedak, dimana dedak padi ini terdiri dari kulit ari, menir dan sekam. Jumlah sekam dalam dedak padi sangat mempengaruhi kualitas dedak. Dedak padi dengan kandungan sekam yang tinggi mempunyai kualitas nutrisi yang rendah (jelek).
Sekam tidak layak dijadikan bahan pakan ternak karena kandungan serat kasar yang tinggi dalam sekam tersebut yaitu sekitar 35.5%. pakan yang mengandung dedak dengan kandungan sekam 10% biasanya kurang begitu berpengaruh, tetapi jika kandungan sekam lebih dari 10% akan dapat menurunkan performan ternak ayaym broiler dan menurunkan produksi ayam petelur. Untuk ternak ruminansia, kandungan sekam dalam dedak masih dapat ditolerir tidak lebih dari 25% karena ternak ruminansia memerlukan serat lebih tinggi dibanding unggas.
Kandungan seakm mempunyai korelasi positif terhadap kandungan serat kasar. Semakin tinggi kandunagn sekam semakian tinggi juga kandungan serat kasarnya. Oleh karena itu, perlu ada batasan dan teknik untuk mengetahui apakah kandungan seaam dalam dedak normal atau tidak. Test sekam dapat dilakukan dengan larutan phloroglucinol 1%. Sekam dari dedak padi akan berwarna merah jika terendam dalam larutan phloroglucinol 1%. Sebaran warna merah menandakan kadar sekam dari dedak padi tersebut.
Tujuan paraktikum test sekam ini yaitu untik mengetahui kualitas deadkyang digunakan dalam praktikum ini, untuk mengetahui bagaimana cara mengukur lkadar sekam yang terdapat dalam dedak dan untuk mengetahui berapa nilai kadar sekam itu sendiri.
Manfaat yang diperoleh dari praktikum ini yaitu dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan mahasiswa tentang pengukuran kualitas bahan pakan, memberi pengalaman-pengalaman baru kepada mahasiswa tentang nutrisi dan makanan ternak serta mahasiswa dapat mempraktekkan secara langsung kegitan pengukuran test sekam tersebut.























TINJAUAN PUSTAKA
Sekam adalah bagian dari bulir padi-padian (serealia) berupa lembaran yang kering, bersisik, dan tidak dapat dimakan, yang melindungi bagian dalam (endospermium dan embrio). Sekam dapat dijumpai pada hampir semua anggota rumput-rumputan (Poaceae), meskipun pada beberapa jenis budidaya ditemukan pula variasi bulir tanpa sekam, misalnya jagung dan gandum (Wahju, J . 1997)
Menurut Abriyanto wahyu (2007) kandungan sekam mempunyai korelasi positif terhadap kandungan serat kasar. Semakin tinggi kandungan sekam, semakin tinggi juga kandungan serat kasarnya. Oleh karena itu perlu ada batasan dan teknik untuk mengetahui apakah kandungan sekam normal atau tidak. Kandungan sekam umumnya kurang dari 13 %, namun seringkali ditemukan dedak padi yang kandungan sekamnya lebih dari 15% (Supriyati, 1997). Untuk menghindari penggunakan penggunaan dedak padi dengan kandungan sekam lebih dari 15%, perlu dilakukan test dengan Flourogucinol. Karena telah diketahui bahwa flouroglucinol tidak bereaksi dengan dedak namun memberikan warna merah pada kulit padi (sekam). Uji dengan flouroglucinol ini juga bisa mendeteksi jika dedak padi di campur atau terkontaminasi dengan serbuk gergaji, karena pada prinsipnya flouroglucinol bereaksi dengan lignin yang ada dalam kulit padi.
Sekam adalah kulit gabah hasil samping dari proses penggilingan padi. Sekam tidak layak sebagai bahan pakan ternak karena kandungan serat kasar tinggi (35.3%). Pakan yang mengandung dedak dengan kandungan sekam 10% biasanya kurang berpengaruh, tetapi lebih dari 10% akan menurunkan performan ternak ayam broiller dan menurunkan produksi ayam petelur (Rasyaf M, 1994). Untuk ternak ruminansia kandungan sekam dalam dedak masih bisa ditelorir tidak lebih dari 25% karena ternak ruminansia memerlukan serat lebih tinggi dibandingkan dengan unggas.
Sekam padi merupakan lapisan keras yang meliputi kariopsis yang terdiri dari dua belahan yang disebut lemma dan palea yang saling bertautan. Pada proses penggilingan beras sekam akan terpisah dari butir beras dan menjadi bahan sisa atau limbah penggilingan. Sekam dikategorikan sebagai biomassa yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti bahan baku industri, pakan ternak dan energi atau bahan bakar. Dari proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam sekitar 20-30% dari bobot gabah. Sekam padi memiliki komponen utama seperti selulosa (31,4 – 36,3 %), hemiselulosa (2,9 – 11,8 %) , dan lignin (9,5 – 18,4 %) (Champagne, 2004).
Menurut Atmadja (2009) hasil panen padi dari sawah disebut gabah. Gabah tersusun dari 15-30% kulit luar (sekam), 4-5% kulit ari, 12-14% katul, 65-67% endosperm dan 2-3% lembaga. Sekam membentuk jaringan keras sebagai perisai pelindung bagi butir beras terhadap pengaruh luar. Kulit ari bersifat kedap terhadap oksigen, CO2 dan uap air, sehingga dapat melindungi butir beras dari kerusakan oksidasi dan enzimatis. Lapisan katul merupakan lapisan yang paling banyak mengandung vitamin B1. Selain itu katul juga mengandung protein, lemak, vitamin B2 dan niasin. Endosperm merupakan bagian utama dari butir beras. Komposisi utamanya adalah pati. Selain pati, endosperm juga mengandung protein dalam jumlah cukup banyak, serta selulosa, mineral dan vitamin dalam jumlah kecil. Sekam merupakan 15-30% bagian gabah. Fungsi sekam antara lain melindungi kariopsis dari kerusakan, serangan serangga dan serangan kapang.
Dari proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam sekitar 20-30%, dedak antara 8- 12% dan beras giling antara 50-63,5%. Sekam dengan persentase yang tinggi tersebut dapat menimbulkan problem lingkungan ( Dina Karunia, 2008). Ditinjau data komposisi kimiawi, sekam mengandung beberapa unsur kimia penting. Dengan komposisi kandungan kimia, sekam dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di antaranya: (a) sebagai bahan baku pada industri kimia, terutama kandungan zat kimia furfural yang dapat digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri kimia, (b) sebagai bahan baku pada industri bahan bangunan,terutama kandungan silika (SiO 2 ) yang dapat digunakan untuk campuran pada pembuatan semen portland, bahan isolasi, husk-board dan campuran pada industri bata merah, (c) sebagai sumber energipanas pada berbagai keperluan manusia,kadar selulosa yang cukup tinggi dapat memberikan pembakaran yang merata dan stabil.
Menurut Thiara Mardi (2009) komposisi kimia sekam padi adalah sebagai berikut :
-          kadar air : 9.02%
-          protein kasar : 3.03%
-          lemak : 1.18%
-          serat kasar : 35.68%
-          abu : 17.17%
-          karbohidrat dasar : 33.71%
-          karbon (zat arang) : 1.33%
-          hydrogen : 1.54%
-          oksigen : 33.64%
-          silika : 16.98%


















MATERI DAN METODA
Waktu dan Tempat
            Praktikum Industri Makanan Ternak yang membahs materi test sekam dilaksanakan pada hari Rabu, 6 Mei 2010 pada pukul 14.00-16.30 wib yang bertempat dilaboratorium makanan ternak Fakultas Peternakan Universitas Jambi.
Materi
            Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu cawan Petri (masing-masing kelompok 4 buah cawan), pipet tetes, ayakan mesh 40, larutan phloroglucinol 1%, dedak dan sekam.s
Metoda
            Siapkan sampel standar sekam terlebih dahulu sebelum melakukan test sekam. Sampel standar sekam yang digunakan yaitu 10%, 15% dan 20%. Cara membuat sekam standar yaitu timbang dedak untuk sekam standar 10%, 15% dan 20% secara berurutan yaitu 9 gr, 8.5 gr dan 8 gr, sebelum ditimbang dedak di ayak terlebih dahulu. Kemudian timbang sekam dengan porsi 1 gr, 1.5 gr dan 2 gr. Campurkan dedak dan sekam tersebut sesuai dengan sekam standar yang digunakan. Sekam standar ini dibuat untuk kelompok besar.
            Setelah sampel standar sekam siap, maka kita sudah dapat mulai melakukan test sekam denagn larutan phloroglucinol 1%. Caranya yaitu denagn menimbang sampel standar sekam 10%, 15% dan 20% masing-masing sebanyak 1 gr. Lalu timbang sampel dedak padi dari kelompok masing-masing (kelompok kecil) sebanyak 1 gr. Letakkan masing-masing sampel dalam cawan petri secara merata. Masukkan larutan phloroglucinol 1% kedalam masing-masing bahan tersebut dengan mengunakan pipet tetes sebanyak 5 ml. Goyang-goyangkan cawan petri hingga bahna tersebut bercampur merata dengan larutan phloroglucinol 1%. Tunggu selama 10 menit, kemudian amati perubahan warnanya. Bandingkan hasil yang didapat dengan sampel standar.































HASIL DAN PEMBAHASAN
            Dari pengamatan test sekam yang dilakukan, maka didapat hasil sebagai berikut :
 - Kelompok 1
            Asal dedak
            Nama toko                  : Rizki Jaya
            Alamat                        : Depan tugu juang
            Hasil pengujian           : Kadar sekam dalam dedak > 20%
            Keterangan                  : Kualitas jelek
 - Kelompok 2
            Asal dedak
            Nama toko                  : Inti Unggas
            Alamat                        : Talang Bakung
            Hasil pengujian           : Kadar sekam dalam dedak > 20%
            Keterangan                  : Kualitas jelek
 - Kelompok 3
            Asal dedak
            Nama toko                  : Buana Jaya
            Alamat                        : Talang Banjar
            Hasil pengujian           : Kadar sekam dalam dedak > 20%
            Keterangan                  : Kualitas jelek
 - Kelompok 4
            Asal dedak
            Nama toko                  : Din Jaya
            Alamat                        : Depan tugu juang
            Hasil pengujian           : Kadar sekam dalam dedak > 20%
            Keterangan                  : Kualitas jelek
 - Kelompok 5
            Asal dedak
            Nama toko                  : Din Jaya
            Alamat                        : Depan tugu juang
            Hasil pengujian           : Kadar sekam dalam dedak > 20%
            Keterangan                  : Kualitas jelek
 - Kelompok 6
            Asal dedak
            Nama toko                  : Sumber Harapan
            Alamat                        : Jln. Lintas timur
            Hasil pengujian           : Kadar sekam dalam dedak > 20%
            Keterangan                  : Kualitas jelek
            Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa kadar sekam dedak padi dari semua kelompok yaitu lebih 20%. Berdsarkan diktat penuntun praktikum Industri Makanan Ternak, kadar sekam yang lebih dari 20% ini menandakan bahwa dedak yang digunakan mempunyai kualitas yang jelek, dimanan kadar sekam yang direkomendsaikan untuk dedak yaitu minimal 20%.
Dari proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam sekitar 20-30%, dedak antara 8- 12% dan beras giling antara 50-63,5%. Sekam dengan persentase yang tinggi tersebut dapat menimbulkan problem lingkungan ( Dina Karunia, 2008). Ditinjau data komposisi kimiawi, sekam mengandung beberapa unsur kimia penting. Dengan komposisi kandungan kimia, sekam dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di antaranya: (a) sebagai bahan baku pada industri kimia, terutama kandungan zat kimia furfural yang dapat digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri kimia, (b) sebagai bahan baku pada industri bahan bangunan,terutama kandungan silika (SiO 2 ) yang dapat digunakan untuk campuran pada pembuatan semen portland, bahan isolasi, husk-board dan campuran pada industri bata merah, (c) sebagai sumber energipanas pada berbagai keperluan manusia,kadar selulosa yang cukup tinggi dapat memberikan pembakaran yang merata dan stabil.
Sekam adalah kulit gabah hasil samping dari proses penggilingan padi. Sekam tidak layak sebagai bahan pakan ternak karena kandungan serat kasar tinggi (35.3%). Pakan yang mengandung dedak dengan kandungan sekam 10% biasanya kurang berpengaruh, tetapi lebih dari 10% akan menurunkan performan ternak ayam broiller dan menurunkan produksi ayam petelur (Rasyaf M, 1994). Untuk ternak ruminansia kandungan sekam dalam dedak masih bisa ditelorir tidak lebih dari 25% karena ternak ruminansia memerlukan serat lebih tinggi dibandingkan dengan unggas.
Sekam padi merupakan lapisan keras yang meliputi kariopsis yang terdiri dari dua belahan yang disebut lemma dan palea yang saling bertautan. Pada proses penggilingan beras sekam akan terpisah dari butir beras dan menjadi bahan sisa atau limbah penggilingan. Sekam dikategorikan sebagai biomassa yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti bahan baku industri, pakan ternak dan energi atau bahan bakar. Dari proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam sekitar 20-30% dari bobot gabah. Sekam padi memiliki komponen utama seperti selulosa (31,4 – 36,3 %), hemiselulosa (2,9 – 11,8 %) , dan lignin (9,5 – 18,4 %) (Champagne, 2004).
Menurut Abriyanto wahyu (2007) kandungan sekam mempunyai korelasi positif terhadap kandungan serat kasar. Semakin tinggi kandungan sekam, semakin tinggi juga kandungan serat kasarnya. Oleh karena itu perlu ada batasan dan teknik untuk mengetahui apakah kandungan sekam normal atau tidak. Kandungan sekam umumnya kurang dari 13 %, namun seringkali ditemukan dedak padi yang kandungan sekamnya lebih dari 15% (Supriyati, 1997). Untuk menghindari penggunakan penggunaan dedak padi dengan kandungan sekam lebih dari 15%, perlu dilakukan test dengan Flourogucinol. Karena telah diketahui bahwa flouroglucinol tidak bereaksi dengan dedak namun memberikan warna merah pada kulit padi (sekam). Uji dengan flouroglucinol ini juga bisa mendeteksi jika dedak padi di campur atau terkontaminasi dengan serbuk gergaji, karena pada prinsipnya flouroglucinol bereaksi dengan lignin yang ada dalam kulit padi.



KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
            Dari praktikum test sekam ini dapat disimpulkan bahwa jumlah sekam dalam dedak padi sangat mempengaruhi kualitas dedak. Semakin tinggi kandungan sekam dalam dedak, maka dedak akan mempunyai kualitas nutrisi yang rendah. Pakan yang mengandung dedak dengan kandungan sekam 10% biasanya berpengaruh pada performan dan produksi unggas, akan tetapi untuk ternak ruminansia kandunag sekam masih bisa ditolerir hingga 25%. Untuk mengetahui kandunagn sekam dalam dedak dapat dilakukan analisis dilaboratorium dengan menggunakan larutan phloroglucinol 1%. Prinsip kerjanya yaitu tidak bereaksi dengan dedak namun dapat memberikan warna merah pada kulit padi (sekam).
                                                                Saran                               
Untuk pelaksanaan praktikum selanjutnya, diharapkan kepada praktikan agar dapat mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum sehingga praktikum dapat berjalan dengan lancar. Selain itu diharapkan juga kepada praktikan agar dapat datang tepat waktu, tertib dan tidak membuat keributan pada saat praktikum.





DAFTAR PUSTAKA
Abriyanto Wahyu. 2007. Analisa Dedak Padi Untuk Pakan Sapi. 7 mei 2010. http://duniasapi.com/analisa-dedak-padi-untuk-pakan-sapi/

Atmadja. 2009. Teknologi Pengolahan Beras. 7 Mei 2010. http://topagriculture.blogspot.com/2009/05/teknologi-pengolahan-beras.html

Champagne, Elaine T. 2004. RICE: Chemistry and Technology. American Association of Cereal Chemists Inc. St.Paul, Minnesota, USA

Dina Karunia. 2008. Kandungan Kimia Sekam Padi. 7 Mei 2010. http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081110202957AA1CBsE

Rasyaf,M.1994.Ransum Ayam Broiler.Aksi agraris Kanisius.Yogyakarta
Supriyati.1997.Pengujian Makanan Ayam Petelur.Kanisius.Yogyakarta
Thiara Mardi. 2009. Sekam Padi Sebagai Energi Alternatif. 7 Mei 2010. http://blog.uns.ac.id/members/tara/

Wahyu,j.1997.Ilmu Nutrisi Unggas.Gadjah Mada University Press.Yogyakarta

Senin, 24 Oktober 2011

JeNIS-JENIS KAMBING PERAH

1. Kambing Etawa
Berasal dari wilayah Jamnapari India. Kambing ini paling popular di Asia Tenggara, termasuk tipe dwiguna yaitu penghasil susu dan penghasil daging. Ciri-cirinya postur tubuh besar, telinga panjang menggantung, bentuk muka cembung, bulu bagian paha sangat lebat, BB jantan mencapai 90 kg, BB betina 60 kg. produksi susu mencapai 235 kg/ms laktasi. Di Indonesia untuk perbaikan mutu kambing local maka menghasilkan kambing PE (Peranakan Etawa). Sentra terbesar kambing PE adalah di Kaligesing Purworejo Jawa Tengah.
2. Kambing Alpin
Berasal dari Pegunungan Alpen Swiss, Keberadaan kambing jenis ini menebar ke seluruh daratan eropa. Ciri-ciri kambing Alpen telinga berukuran sedang dan megarah ke atas dengan warna bulu dominan putih, hitam, coklat. BB jantan mencapai 90 kg, BB betina 65 kg. Produksi susu 600 kg/ms laktasi
3. Kambing Saanen
Berasal dari lembah Saanen Swiss bagian barat. Merupakan jenis kambing terbesar di Swiss.Sulit berkembang di wilayah tropis karena kepekaannya terhadap matahari. Ciri-ciri telinga tegak dan mengarah ke depan, bulu dominant putih, kadang2 ditemui bercak hitam pada hidung, telinga atau ambing. Tidak bertanduk dan termasuk tipe dwiguna. Produksi susu 740 kg/ms laktasi.
4. Kambing Toggenburg
Berasal dari Toggenburg Valley (wilayah timur laut Swiss). Ciri-ciri telinga tegak menghadap ke depan, hidung agak cembung, warna bulu merah tua/coklat dengan bercak putih. BB jantan 80 kg betina 60 kg. Yang paling menonjol adalah kehalusan bulunya. Produksi susu 600 kg/ms laktasi.
5. Kambing Anglo Nubian
Berasal dari Wilayah Nubia (Timur Laut Afrika). Ciri-ciri telinga menggantung dan ambing besar, warna bulu hitam, merah, coklat, putih atau kombinasi warna2 tersebut. BB jantan 90 kg, betina 70 kg. Produksi susu 700 kg/ms laktasi.
6. Kambing Beetal
Berasal dari Punjab India, Rawalpindi dan Lahore (Pakistan). Diduga merupakan hasil persilangan antara kambing Etawa dengan kambing local karena cirri fisiknya sangat menyerupai Etawa. Produksi susu 190 kg/ms laktasi.
Manfaat dan Khasiat susu kambing
Selain dijual dalam bentuk segar, susu kambing juga dapat diolah menjadi produk lain seperti yogurt, keju, mentega. Butiran lemak susu kambing berukuran antara 1-10 milimikron sama dengan susu sapi, tetapi jumlah butiran lemak yang berdiameter kecil dan homogen lebih banyak terdapat pada susu kambing sehingga susu kambing lebih mudah dicerna alat pencernaan manusia, serta tidak menimbulkan diare pada orang yang mengkonsumsinya. . Susu kambing juga tidak mengandung karoten, sehingga warna susu kambing lebih putih daripada susu sapi.
Khasiat susu kambing antara lain untuk terapi TBC, membantu memulihkan kondisi orang yang baru sembuh dari sakit, mempu mengontrol kadar kolesterol dalam darah. Untuk meningkatkan kesehatan kulit, terutama bagian wajah. Kandungan gizi susu kambing dapat meningkatkan pertumbuhan bayi dan anak-anak serta membantu keseimbangan proses metabolisme, mendukung pertumbuhan tulang dan gigi, membantu pembentukan sel darah merah dan jaringan tubuh. Baik bagi wanita dewasa untuk mengembalikan zat besi setelah haid, kekurangan darah (anemia), kehamilan serta pendarahan setelah melahirkan. Kandungan mineralnya memperlambat proses osteoporosis.

Faktor yang mempengaruhi komposisi susu kambing
1. Variasi antar jenis kambing
Dengan aneka karakteristik yang berbeda satu dengan lainnya maka akan terdapat variasi dalam jumlah produksi susunya.
2. Variasi Inter jenis kambing
Setiap indivudi dari jenis/bangsa yang sama memiliki variasi dalam jumlah susu yang dihasilkan walopun jenis atau bangsa sama, tetapi jika umur dan masa laktasi berbeda maka jumlah produksi susu juga berbeda.
3. Faktor genetik
Adalah faktor yang diturunkan dari nenek moyang dan memiliki sifat kebakaan.
4. Musim
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kambing yang beranak pada musim gugur memiliki tingkat produksi yang lebih tinggi disbanding kambing yang beranak musim panas.
5. Umur
Produksi susu kambing meningkat seiring bertambahnya umur dan mencapai puncak pada saat berumur 5-7 tahun, yakni pada masa laktasi ke-3 atau ke-5. selanjutnya produksi susu akan menurun.
6. Lama masa laktasi
Dalam satu jenis atau bangsa kambing perbedaan lama masa laktasi menyebabkan perbedaan jumlah total produksi susu selama masa laktasi. Semakin lama masa laktasi akan semakin banyak total produksi susu yang dihasilkan. Korelasi ini tidak berarti akan semakin tinggi keuntungan yang diraih.
7. Faktor perawatan dan perlakuan
Suasana kandang yang nyamn sangat mendukung utnuk berproduksi secara optimal.
8. Pengaruh masa birahi dan kebuntingan
Kambing yang dikawinkan kembali setelah 3 bulan beranan tingkat produksi susunya akan lebih cepat menurun disbanding kambing yang sedang laktasi tetapi tidak bunting. Hal ini kemungkinan disebabkan kurangnya kuantitas dan kualitas pakan yang dikonsumsi, serta tingginya kebutuhan kambing akan zat-zat makanan utnuk mendukung [proses fisiologis dalam tubuhnya.
9. Frekuensi pemerahan
Berdasar hasil penelitian kambing yang diperah 2x sehari total produksi susunya lebih tinggi daripada kambing yang diperah 1x sehari.
10. Jumlah anak dalam sekali melahirkan.
Produksi susu kambing perah yang beranak 2 ekor dalam 1 kali melahirkan biasanya 20-30% lebih tinggi dari kambing perah yang hanya beranak 1 ekor.penyebabnya adalah rangsangan menyusui dari anak kambing (cempe) yang dilahirkan
11. Pergantian pemerah
Kambing ternmasuk hewan yang tidak terlalu mudah beradaptasi pada kondisi lingkungan yang berubah drastic. Pergantian pemerah akan menyebabkan kambing mengalami stress.
12. Lama masa kering
Utnutk mendorong produksi beranak 3x dalam 2 tahun biasanya kambing dikawinkan kembali setelah beranak 3 bulan atau saat pertama birahi muncul. Dalam kondisi demikian kambing membutuhkan waktu untuk menjalani masa kering selama 2 bulan agar memiliki kesempatan untuk kembali pulih kondisinya.
13. Faktor hormonal
Hormone yang berperan dalam produksi susu adalah laktogen.penyuntika n hormone ini pada saat laktasi menyebabkan produksi susu meningkat.
14. Faktor pakan
Produksi susu akan mencapai optimal jika pakan yang diberikan dan dikonsumdi oleh kambing jumlah dan kualitasnya cukup. Komposisi hijauan dan konsentrat harus seimbang.
15. Pengaruh penyakit
Kambing perah yang sedang laktasi produksi susunya akan menurunjik terserang penyakit. Bahkan bisa langsung terhenti. Efek obat yang diberikan juga akan berpengaruh terhadap produksi dan kualitas susu yang dihasilkan.
Pemberian pakan
Secara alamiah kerena kehidupan awalnya di daerah pegunungan kambing akan lebih menyukai rambanan (daun-daunan) daripada rumput. Kambing termasuk jenis jewan ruminansia. Ruminansia tidak terlalu bergantung pada kadar zat-zat gizi pakan yang dikonsumsinya, karena proses di dalam rumen mampu menghasilkan zat gizi yang mudah diserap tubuh. Kadang pemberian pakan protein tinggi tidak efisien, karena protein tersebut mudah terurai dan terfermentasi oleh mikrobia rumen.
Ruminansia mampu mensintesis asam amino dari unsure yang dihasilkan oleh berbagai proses yang terjadi dalam rumen. Ruminansia mampu mengkonsumsi urea dlam jumlah terbatas yang di dalam rumen akan terurai menjadi amoniak dan merupakan bahan utama pembentuk asam amino. Selain bahan pakan yang dikonsumsi kebutuhan tubuh terhadap protein juga dipenuhi dari mikrobia rumen.
1 Bahan pakan
Secara umum kebutuhan zat pakan bagi kam,bing dikelompokkan dalam 2 golongan besar sumber pakan yaitu bahan pakan sumber energi dan bahan pakan sumber protein.
Bahan pakan sumber energi terdiri dari bahan pakan yang berupa biji-bijian dan sisa serealia (mis : tepung, jagung dan dedak padi), umbi- umbian (mis : tepung singkong, onggok, ubi jalar) dan hijauan (mis : rumput setaria dan rumput lapang). Bahan pakan sumber protein bisa berupa biji-bijian misal tepung bungkil kedelai, ampas tahu, ampas kecap, biji kapas atau tepung2 yang berasal dari hewan atau bagian tubuh hewan seperti tepung darah dan tepung ikan. Beberapa contoh hijauan yang merupakan sumber protein seperti daun gliricidae, turi, lamtoro, centrocema, dan kacang gude.
Pakan hijauan dalam keadaan segar umumnya lebih disukai kambing dibanding dengan pakan dalam keadaan layu atau kering. Namun ada beberapa jenis hijauan yang dalam keadaan segar masih mengandung racun yang membahayakan kehidupan kambing seperti gliricidae, sebaiknya hijauan jenis tersebut dilayukan dulu selama 2-3 jam di sinar matahari atau diinapkan semalam sebelum diberikan pada ternak. Pemberian hijauan yang bervariasi akan memberi dampak yang lebih baik.
Kebutuhan kambing akan bahan pakan sangat tergantung dari kondisi fisiologis kambing tersebut, secara umum kambing membutuhkan hijauan segar sebanyak 10% dari berat badan atau berat hidupnya. Misal beratnya 30 kg maka kambing tersebut membutuhkan 3 kg hijauan/hr. Perlu diketahui bahwa tidak semua bagian hijauan disukai oleh kambing.beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian hijauana yang dicincang sekitar 5-10 cm akan lebih efisien dikonsumsi oleh kambing, karena bentuknya yang kecil-kecil.
Contohnya batang muda jika diberikan secara utuh kurang disukai oelh kambing tetapi dengan dicincang akan lebih mudah tercampur dengan jenis pakan yang lain sehingga memungkinkan kambing untuk memakannya.
2. Pemberian konsentrat
Pakan sebagai sumber protein merupakan hal yang mutlak diperlukan oleh kambing yang sedang laktasi, karena proses pembentukan susu membutuhkan suplai protein yang lebih tinggi. Sistem pencernaan rumen seringkali menjadi penyebab kurang efektifnya pemberian konsentrat dengan kadar protein tinggi. Penyebabnya adalah konsentrat tersebut akan diurai atau difermentasi oleh bakteri dan mikroba lain dalam rumen, sehingga pprotein terdegradasi sebelum diserap tubuh. Untuk itu pemberian konsentrat perlu disiasati. Waktu pemberian yang terbaik adalah saat kambing sudah banyak mengkonsumsi hijauan, tetapi belum kenyang. Pada saat itu, rumen akan dipenuhi oleh hijauan, sehingga aktivitas rumen sedang tinggi-tingginya. Pemberian konsentrat saat seperti ini bisa menghindari proses fermentasi bahan pakan dalam rumen sehingga keberadaan zat-zat makanan dapat dipertahankan. Hal ini disebabkan konsentrat tidak terlalu lama berada dalam rumen.
Beberapa bahan konsentrat yang biasa diberikan adalah bekatul, bungkil kedelai, ampas tahu, bungkil kelapa atau campuran dari beberapa konsentrat. Misal 62% bekatul, 20% ampas tahu, 15% bungkil kedelai, 1% garam dapur, dan 2% tepung tulang. Jumlah pemberian sebanyak 0,5- 0,6 kg/ekor dan diberikan dalam bentuk bubur(dicampur dengan air). Usahakan konsentrat agar habis dalam waktu singkat untuk menghindari tumbuhnya jamur yang bias menimbulkan penyakit.
3. Vitamin dan Mineral
Selain bahan pakan sumber protein dan sumber energi, kambing memiliki kebutuhan akan vitamin dan mineral yang sebenarnya bisa tercukupi dengan pemberian pakan yang bervariasi. Jika kurang bervariasi sebaiknya dilakukan pemberian zeolit, garam dapur, atau tepung tulang sebagai sumber mineral dengan dosis tidak lebih dari 5 permil (5/1000) untuk setiap 1 kg berat badan. Vitamin dibutuhkan kambing dalam jumlah sedikit tetapi sangat berpengaruh dalam proses metabolisme dan daya tahan tubuhnya terhadap penyakit. Pemberian garam dapur selain untuk memenuhi kebutuhan mineral dapat juga untuk meningkatkan nafsu makan kambing. Pemberiannya sebaiknya tidak terjadwal, tetapi sudah dalam keadaan tersedia setiap saat di dalam kandang. Penempatannya bisa di dalam ember khusus yang digantung di dekat tempat hijauan setinggi 50-90 cm dr atas lantai.
4. Air
Sebanyak 70% tubuh kambing berupa air. Kekurangan air yang mencapai 20% menyebabkan kambing dehidrasi. Makanya ketersediaan air merupakan suatu hal yang mutlak. Secara umum seekor kambing membutuhkan air sebanyak 1,5-2,5 liter/hari. Sebaiknya air disediakan dalam jumlah yang tidak terbatas artinya jika air di wadahnya tinggal sedkit segera ditambah lagi.
5. Penggunaan UMB (Urea Molasses Block)
UMB mengandung non protein nitrogen (NPN) yang dalam rumen akan mengaktifkan mikroba rumen dan sintesis menjadi asam amino. UMB juga terdiri dari berbagai bahan penyusun lainnya seperti molasses, dedak padi, dan tepung tapioka (sebagai sumber energi), bungkil kedelai (sumber protein), garam dapur, tepung tulang dan kapur (sumber mineral). Pemberian UMB 4 gr/hari/kg berat badan mampu meningkatkan pertambahan berat badan harian kambing dan meningkatkan akseptabilitas kambing terhadap limbah pertanian dengan serat kasar cukup tinggi seperti kulit dan tongkol jagung.